Tampilkan postingan dengan label celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label celoteh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juni 2016

Pekerjaan Pertamamu menentukan Pekerjaanmu Selanjutnya - Kemayu, 2016

duuhhh uda lama banget yaa saya ga nulis blog lagi.
Maaf ya, kesibukan kerja dan kuliah ternyata cukup menyita waktu saya, dan sebenarnya banyak sekali hal-hal menyenangkan yang patut diceritakan di blog ini.

Oke. tulisan saya kali ini didekasikan untuk pekerjaan pertama saya sebagai leader di Pull and Bear Galaxy Mall, 2 tahun yang lalu.
Ya, sejak 2 tahun yang lalu saya sudah resign dari PB, karena melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kuliah saya malam hari, after work hour. Jelas, jadwal kuliah saya tidak cocok dengan jam kerja saya.
jadi, karena saya prioritas ke kuliah, dengan berat hati saya mengundurkan diri dan mendapatkan pekerjaan baru.

Bekerja di industri ritel fesyen merupakan hal yang menyenangkan jika memang kamu memiliki passion di bidang tersebut. Bekerja di ritel fesyen adalah cara yang tepat untuk mengembangkan wawasanmu di bidang fashion management. apalagi, di Indonesia sendiri susah sekali cari mata kuliah ini. Kalo di luar negeri jelas banyak. Tapi kalo di Indonesia, mending milih langsung kerja di ritelnya, dapet ilmunya dapet juga bayarannya. haha
Cuma di ritel, kamu yang SPG bisa sampe level Manager. Di Pull and Bear sendiri, ada SPG lulusan SMA belum berpengalaman, dan masih 7 bulan kerja, bisa diangkat jadi SPV (melalui training) karena emang kerjanya dia bener, rajin, mau belajar, ga gampang nyerah, taat SOP, yaaaaa akhirnya jenjang karirnya bisa cepet naik. Saya sendiri 4 bulan di SPV langsung bisa training ke Deputy Manager. Modalnya hanya rajin dan mau kerja keras. Karena di level operasional emang banyak pekerjaan fisiknya. (eits jangan samakan Pull and Bear (inditex group) dengan grup lain yaaa. Dari omset aja beda jauh, otomatis beban kerjanya juga bakalan beda jauh)
Kalo analisisnya sih ga begitu ribet, cuma analisis penjualan per fixtures tiap minggu untuk bikin floor plan (rencana display untuk barang datang selanjutnya).
next, kalo kamu uda bisa mengatur toko dengan baik, kamu bakal ditantang lebih di assistant operational manager dengan membawahi beberapa toko sekaligus. Kalo di MAP sendiri sih yang ada masih MAP Fashion One (Nautica, Kipling, Cotton on, New Look, dkk), Untuk MAP merek Inditex (untuk merek Zara, PB, Stradivarius dkk) masih belum ada asst. Operational Manager karena tokonya belum terlalu banyak seperti MAP Fashion One. Nah, dengan kamu membawahi beberapa toko sekaligus, wawasan kamu tentang management akan bertambah. Kamu akan menemukan bahwa satu merek di tempat yang berbeda akan memiliki omset yang berbeda, best selling products yang berbeda, dsb. Kamu akan lebih peka terhadap karakter pasar di masing-masing toko, lebih luas lagi kamu juga dapat menganalisis karakter pasar di mall tersebut, bahkan di lingkungan sekitaran mall tersebut. Seru banget!

Oiya, kembali ke pekerjaan pertama. buat kamu yang mau lulus sekolah, pikirkan baik-baik akhir dari karir kamu ingin menjadi apa. Jika kamu memang ingin menjadi Brand Manager, ya dari awal terjun langsung di ritel fesyen. Jika kamu ingin jadi Sales Manager di perusahaan farmasi, ya dari awal kamu harus terjun di industri farmasi. Mengapa harus begitu? Karena kebanyakan yang udah udah, termasuk saya, pekerjaan pertamamu adalah yang menentukan pekerjaan keduamu, dst. Ketika kamu sudah memiliki pengalaman kerja, yang dilihat rekruiter bukan lagi almamater sekolahmu tapi pengalaman kerja kamu. Cocok ga sama posisi kosong di perusahaan ini?
Pendapat saya ini juga diamini oleh salah satu dosen MSDM saya di kampus. So, pikirkan dulu END-nya mau jadi apa, lalu masuk ke industri itu dari sekarang. Konsisten.

Oke, yang tertulis diatas ini hanya percikan pengalaman saya di pekerjaan pertama saya. Tidak ada unsur menjelek-jelekan atau merendahkan satu sama lain, atau pun untuk mencari keuntungan apapun. Tujuan penulisan ini sebatas sharing experience aja kok.
Bye, semoga bermanfaat :)


(ini foto-foto hari terakhir saya di Pull and Bear)
Thank you team :)










Rabu, 19 Maret 2014

Saya di PULL&BEAR

Ceritanya mau curhat. Mencurahan isi hati, sembari menyemangati diri.

Sejak kecil, saya memang sangat menyukai pakaian. Kalo beli baju ga mau ngasal. Kerap jg ngejaitin di tukang jait langganan dengan model yang saya pengen. Bahkan ketika saya menginjak kelas 5 atau 6 SD, saya membuat baju barbie saya sendiri, ala jait tangan, karena ibu saya enggan membelikan baju-baju barbie yang harganya memang dirasa cukup mahal (dan ga penting juga kali yaa, haha). Saya membuat segala baju yang saya belum punya untuk barbie saya. Apapun modelnya.
Namun sayangnya, kebiasaan tersebut terhenti karena berbagai kegiatan di jenjang SMP hingga SMA.

Hingga suatu saat, saya mendapatkan beasiswa untuk sekolah Strata 1 di Jakarta. Dari situ saya mulai berkreasi lagi dalam berpakaian. Dari kreasi alay yang enggak bangets, sampe kreasi yang menurut saya "yahh, lumayanlah, oke jg" sudah pernah dilakukan. Hingga ketika saya lulus sekolah pun, saya memutuskan untuk memulai karir saya di dunia pakaian.

Yup! Tuhan memang Maha Terbaik. Blessing sekali ketika saya diterima magang di Gogirl! dan kini bekerja di Pull and Bear. Salah satu majalah terbaik fashion wanita di Indonesia, dan fashion retail milik Inditex, Spain (bawaan MAP) yang cukup diperhitungkan di kancah fashion retail industry. Inditex ini memiliki 9 brand diantaranya ada Pull and Bear, Zara, Stradivarius, Berskha, Massimodutti, dll.

Dan disinilah awal cerita dimulai.
PULL & BEAR (baca: PB)




Saya kerja di PB sejal 10 Juni 2013. Alhamdulillah, saya jadi supervisor di salah satu toko yang saat itu akan dibangun di Surabaya. 1 Agustus saya melakukan opening store di GM Surabaya, dengan bekal 1 bulan 20 hari training di Jakarta (yang seharusnya dilakukan selama 3 bulan). Wow sih menurut saya. Karena saya merasa sangat dikejar2 dan dituntut harus bisa. Baiklah, tapi ini masih biasa saja. 1 bulan di surabaya, 2 bulan di surabaya, 3 bulan, Support Manager dari Jakarta harus kembali ke tokonya di Jakarta, dan kita pun harus bisa mandiri menjalankan operasional toko. Baik, saya jalan kan dengan optimal.
Hingga suatu saat saya merasa stuck dan bosan dengan pekerjaan saya. Saya tidak lagi semangat. Alamat. Salah satu tanda kurang bersyukur. Namun, itu yang saya rasa kan. Ketika rutinitas pekerjaan saya adalah itu dan itu, hingga merasa tidak ada lagi yang bisa saya pelajari disini. I need a challenge. And God give me a doorprize.

Masa probation level Supervisor yang seharusnya dijalani selama 6 bulan pun, saya tempuh dengan hanya 4 bulan saja. Berikut juga saya diberi mandat untuk langsung training ke level Deputy Manager tepat pada hari dimana masa probation saya dicabut.
Puji Tuhan sekali, saya berkhianat jika mendustakan nikmat Tuhan yang telah diberikan. Padahal Tuhan selalu baik terhadap saya.

1 bulan 2 bulan 3 bulan, hingga 9 bulan sudah saya bekerja di PB, dengan tepat 5 bulan saya menjalani posisi Deputy Manager in Training. Jika saya tadi mengatakan butuh tantangan. Ini adalah posisi yang tepat untuk cari tantangan. Tantangan itu muncul tiap detik saya menjalani posisi Deputy Manager. Memang, tidak ada pencapaian yang diraih tanpa adanya upaya dan pengorbaan. Saya menyadari bahwa hari demi hari tantangan yang datang semakin berat. Beraaaat sekali. Saya pun sampai merasa malas sekali untuk pergi ke tempat kerja, dimana seharusnya menjadi tempat yang saya sukai karena dipenuhi dengan pakaian2 yang selalu up to date. Tapi saat ini, perasaan itu memang sedang mendera. Dan tidak saya pungkuri, saya sempat berpikir untuk melepas tanggungjawab saya tengah tahun nanti.

Namun berpikir demikian adalah bukan solusi yang baik, malah justru saya lari dari tantangan. Padahal dulunya saya mencari tantangan. Lagi-lagi saya akan mengkhianati nikmat Tuhan, karena Tuhan telah menganugrahkan sebuah tantangan terhadap saya. So, saya harus menjalani ini, hingga pada titik optimal saya benar-benar bisa mengambil pelajaran. Saya akan berjuang. Ini hanya proses pendewasaan yang harus saya jalani. Sakit dan senang itu sama saja, jika pandai memetik hikmahnya, disitulah saya akan belajar dan menjadi lebih dewasa. Level Deputy Manager ini memang dibutuhkan karakter yang lebih dewasa, tegas, berani dibenci. 1 bulan kedepan saya akan melihat, apakah saya sudah pantas untuk diangkat di posisi ini atau tidak, itu semua akan dinilai berdasarkan performa saya selama masa 6 bulan training. Namun pada dasarnya, yang terpenting adalah bukan posisi Deputy Manager itu sendiri, ini lebih kepada apakah seluruh proses ketika akan dan saat menjalani posisi Deputy Manager membuat saya lebih berilmu atau tidak. Itu kuncinya. Karena ingat misi awal saya bekerja di PB, "saya ingin belajar". Dan it's a good place to learn. Bisa dapet ilmu, dibayar lagi! Nikmat Tuhan mana yang kamu dustai lagi, humh?!

Selasa, 05 Maret 2013

My Passion

If you give me a question about my passion, absolutely I'll answer it, fashion. Yaa! I loved fashion very much. Since a long time ago, I have tried to made some fashion apparels liked dresses, pants, accessories, bags, etc. these pictures is some apparels I have been made :)

I have sold it some, for my business at www.ineedtailored.blogspot.com :)
I want to learn and share about fashion to everyone
This is a clutch bag. Made from imitation leather, size 15x25cm2. I sell it at ineedtailored

This is asymmetric dress. Made from chiffon, i also sell it at ineedtailored

This is one of my sketches :)

This is my pattern to make a lace pant


Selasa, 26 Februari 2013

Angkringan KR di Yogjakarta

Menyambung cerita 14 jam di Yogjakarta, sebelum saya pulang ke Malang, di hari yang sama tepat sekitar pukul 17.30 saya, Ika dan pacarnya pergi ke angkringan KR. Notabene, angkringan KR adalah sebuah angkringan khas Yogjakarta yang berada di dekat KR (Koran Kedaulatan Rakyat). Kalau tidak salah, tempatnya berada di Jl. Pangeran mangkubumi, 5-7 menit dari Stasiun Tugu, dekat malioboro.


Katanya, ini adalah angkringan legendaris di Yogja, yang wajib dikunjungi oleh siapa pun yang berkunjung ke Yogja. Dan saya pun menjajal makanannya. Disana tersedia beragam nasi kucing yang berlauk ayam, telor, gudeg, oseng-oseng, dsb. Jika ingin menambah lauk pun juga tersedia bermacam-macam, yaitu sate ayam, sate usus, sate ati, tempe gombal, gorengan, dsb. Menu minuman pun juga beragam, ada teh khas jawa tengah (rasanya agak-agak sepet, tapi nikmatnya mantapppp), es tape, tape anget, tape susu, milo, kopi-kopian, dsb.

Sebenernya saya masih kenyang dan tidak berniat makan. Tapi karena penasaran dan mumpung ada di Yogja, kenyang-kenyang pun saya jajal makanan di angkringan KR. Saya pilih nasi+tongseng ayam+tempe gombal+sate ayam+tape anget sebagai menu saya malam itu. Hemmmm, tak sabar aroma sate dan minuman tapenya, saya lekas menjajal kedua menu tersebut. Hmm.. air tapenya mantapp men, hanya saja bagi yang tidak suka terlalu manis, lebih baik pesan ke Bapak yang jual untuk menambahkan sedikit gula ke minumannya. Kenikmatan air tape hangat itu berasal dari tape berwarna hijau yang suka mengendap dibawah. Ketika saya mencoba memakan tapenya, saya rasa tapenya kurang terfermentasi dengan baik sehingga masih agak keras. Tapi keseluruhan rasa, tape hangatnya saya beri jempol 2 mengingat harganya cuma 3rb saja.

Lalu saya mencoba sate dan tongsengnya. Saat membuka bungkusan nasinya, tongsengnya tersedia di wadah plastik terpisah dengan nasinya. Yaa ini dilakukan untuk mencegah nasinya melunak terkena kuah tongseng. Tak sabar dengan aroma sate dan tongsengnya... saya gigit sate ayamnya sembari membuka plastik tongseng. Mmhhh...luar biasa mantap sate ayam angkringan KR. Ini baru saya beri jempol 4 karena rasanya yang nikmat. Bumbunya pas, pedasnya pas, manis gurihnya pas, kematangannya pas, mantaappp pokoknyaaa. Dan ketika tongseng siap dinikmati, saya mendapati kalau tongseng ayam di angkringan KR dimasak dengan minyak yang berlebih, sehingga kombinasi antara kuah tongseng dengan minyak (entah ini minyak goreng atau minyak dari lemak ayam) tidak seimbang menurut saya. Dan saya pribadi kurang suka dengan masakan yang terlalu berminyak, khususnya untuk makanan berkuah. Alhasil, saya makan tongseng dengan menyaring ayamnya saja. Dan rasanyaaa, Mmmm.... mantap juga. Meskipun saya sedikit terganggu dengan kuah tongseng yang mayoritas adalah minyak, saya suka rasa ayam tongsengnya. Enakkkkkkkk nendanggggg :D~

Hmm.. Angkringan KR = wajib coba. Selain ada makanan dan minuman, di angkringan KR juga ada camilan seperti donat dan piscok (pisang coklat). Sayangnya saya tidak sempat menjajal karena terlampau kenyang. Tapi dari tampilannya, piscok angkringan KR sangat lezattttt karena banyak orang yang bolak balik memakan piscok KR.

14 jam di Yogjakarta

Pukul 07.00 saya menapakan kaki di stasiun Lempuyangan, Yogjakarta. Kunjungan ini adalah kunjungan pertama saya ke Yogjakarta. Senenggggg pastinya, karena liburan yang tak sampai 24 jam ini saya lalui sebagai reward saya atas usainya masa pendidikan strata 1 saya. Sebelum pulang kampung ke Malang, saya memang sengaja ngintil Si Ika (teman sekamar saya) ke Yogja. Berpikir aji mumpung, mumpung ada waktu kosong, dan ada temen yang mau liburan ke Yogja, yaaaa ikut main-main dulu lahhhhh ;p

Di kereta Progo, jalur Jkt-Yogja
Biar irit karena lagi akhir bulan, saya dan Ika naik kreta Progo, kelas ekonomi, yang harganya cuma 33.500 saja. Haha dengan ngrogoh kocek segitu, dalam 10 jam kami sudah bisa sampai Yogjakarta dengan selamat. Jadi sisa uangnya bisa dipake belanjaaaa, Horeeeeee

naik becak keliling Yogja
Kesan pertama di Yogja. Yogjakarta nampaknya tidak menyediakan angkutan kota atau bus kota sebagai alat transportasi jarak dekat. Di sana hanya tersedia becak, delman, ojek, taxi, transyogja, dan bus antar-kota. Kalau kita mau bepergian, yang paling murah adalah menggunakan transyogja, hanya 3000. Namun, kelemahan menggunakan transyogja adalah halte yang tersedia masih sangat minim dibanding di jakarta, jadi saya merasa kesulitan untuk bepergian ke tempat-tempat wisata di sana. Untuk menjangkau halte transyogja saja, dari stasiun Lempuyangan tempat kedatangan saya, saya harus jalan kurang lebih 0,5 km. Dan berpikir efisiensi waktu dan tenaga, akhirnya saya memutuskan menggunakan becak sebagai sarana transportasi saya menuju tempat penginapan.

Kesan Kedua di Yogja adalah tukang becaknya. Tukang becak di Yogja itu sangat ramah-ramah, sampai-sampai pandai sekali mengelabuhi penumpang/turis. Mengapa saya berpendapat demikian. Pengalaman pertama saya naik becak di Yogja. Negosiasi awal yang kami lakukan berakhir pada angka 20.000 rupiah dengan bonus akan diantarkan pula ke tempat-tempat wisata seperti pusat kaos, batik , dsb tanpa menambah biaya lain-lain. Pada perjalanannya, si bapak becak ini sangat baik dengan mengajak ngobrol sana sini, memberikan beberapa rekomendasi penginapan-penginapan yang bagus, dsb. Hingga tiba di penginapan yang telah kami pesan pun, bapak becak tersebut menyanggupi untuk menunggu serambi kami berberes, lalu mengantarkan kami ke pasar beringharjo. Dan kami pun sudah berniatan untuk memberi tip tambahan sebagai apresiasi kebaikan layanan yang telah diberikan oleh si bapak becak.

Okeee, kami pun senang karena beranggapan bahwa kami telah mendapatkan tukang becak yang buaikkknya masa'alah. Namun ternyataaa, jeng jeng... Perjalanan menuju pasar beringharjo dilalui dengan berbagai kecurigaan. Bapak becak malah mengajak kami ke tempat-tempat perbelanjaan (pusat-pusat grosir di jogja). Bapaknya seakan memaksa kami untuk melihat-lihat dan mampir ke toko-toko rekomendasinya. Beberapa toko dia rekomendasikan, dan kami pun tidak begitu tertarik karena tujuan pertama kami memang pasar beringharjo. Kecurigaan kami semakin menjadi-jadi ketika bapak becak mengatakan bahwa pasar beringharjo buka pada 11.00. Dan saat itu masih 09.30, jadi mending belanja di pusat perbelanjaan di situ karena di pasar pun ngambil barangnya dari pusat perbelanjaan situ, kata bapak becak.

Kesal mendengar ocehan dan rayuan yang seakan memaksa itu, saya dan Ika memaksa untuk diantarkan ke Pasar Beringharjo dengan alasan kami terlanjur ada janji dengan teman di sana. Dan tetap saja, dalam perjalanan ke Beringharjo pun, si bapak becak tetap merekomendasikan toko-toko pusat perbenlanjaan kepada kami, namun kami jelas menolak dengan tegas. Kesal dan curiga mendalam terhadap si bapak becak. Kami takut dengan semakin lamanya kami bersama Bapak becak, dia akan meminta ongkos lebih. Padahal, kami bukan turis kaya yang bisa diporotin kapan aja. Kocek kita pas-pasan mennn... ckckkck
Makanya, semakin cepat sampai di Beringharjo, kami akan semakin lega dan terbebas dari bapak becak mencurigakan itu.

Dan sesampainya di Beringharjo, taraaaaaaa, dengan kesal kami memberikan uang 30.000, dan muka bapak becak yang awalnya senyum-senyum baik sok ramah itu, berubah jadi cemberut dan tidap puas dengan bayarannya. Dia meminta tambahan ongkos 10000. Dan dengan muka kesal saya mendebat bahwa negosiasi awal kan 20rb dengan putar-putar ke tempat belanja. Dan bapak becak menyangkal "tapi ini kan udah antar kota mbak". Sedih, dugaanku benar. Ga ada orang baik yang benar-benar baik, terlebih lagi Yogja adalah kota pariwisata. Dia hanya menggunakan tipu daya rekayasa agar turis percaya dan mengikuti alur cerita yang dibuat oleh si tukang becak, sehingga bapak becak bisa mematok ongkos lebih dengan alasan jauh/antar kota. Well, tanpa memperkeruh suasana, saya memberikan 10rb.nya lagi. Dan kami langsung masuk ke Pasar Beringharjo.

Beli kain lurik sorjan khas Yogja, di Pasar Beringharjo.

Beberapa kain yang saya  beli lagi adalah kain brokat warna biru dongker dan putih tulang, lalu kain mori halus untuk membuat batik di Malang. Saya juga membeli sepasang sandal kulit imitasi yang lueemes dan halus buat mama dan sandal sableng warna coklat kegemaran saya (saya sempat 2x membeli sandal ini tapi raib karena suatu alasan. Makanya saya beli lagi untuk ketiga kalinya karena memang suka dengan sandal sablengnya Yogja).

bersama penerima tamu di toko Mirota, Yogja
Berbagai pernak-pernik khas Yogja dijual di Mirota
Dompet kulit imitasi
bando dari kain batik
Topi anyam
Topeng sebagai hiasan dinding

Banyak sekali jenis pola batik yang dipajang di Mirota

Batik Khas Yogjakarta
14 jam di Yogjakarta, saya hanya sempat mengunjungi pasar Beringharjo dan selosor jalan malioboro. Pukul 14.00 saya dan Ika memutuskan untuk kembali ke penginapan karena faktor fisik. Kami berencana naik becak kembali dengan negosiasi awal 10rb dan maksimal dealing 15rb, namun setelah tanya ke bapak becaknya, di bapak becak bilang "wahh..jauh itu mbak, paling 30rb. Tapi nanti sekalian saya antar ke pusat Bakpia yaa, mau? nanti juga kalo mau keliling ke pusat perbelanjaan lain. Iya?" Dengan sewot dan spontan, kami langsung menolak dan berjalan dengan seberang, ke arah halte transyogja. Dalam antrian transyogja, saya dan Ika sekilas menyimpulkan bahwa budaya tukang becak di Yogjakarta memang seperti itu. Mereka mematok harga dengan iming-iming akan diantar ke pusat perbelanjaan lain. Info terakhir, alasan mereka berperilaku seperti itu adalah karena mereka akan mendapat imbalan dari toko pusat perbelanjaan jika si Turis yang mereka antar membeli barang di toko rekomendasi si Tukang becak. Hmmmm saya mulai tidak percaya dengan orang-orang di Yogja, khususnya tukang becaknya. Padahal selama saya berada di Yogja, saya menggunakan bahasa Jawa Halus, yang mana tergolong sopan dan sebudaya dengan Yogja, namun yang saya dapat adalah kekecewaan bukan kekerabatan. Fiuhhhh :(


Nuansa di sekitar malioboro dan pendopo prawirotaman

Tas-tas kulit di jalan malioboro

Beberapa hal unik di Yogja yang saya temukan:

bakpia raminten, ternyata disajikan dengan ikon yang lucu
Nenek ini tampak Unik dengan Ikat rambutnya, dan kombinasi warna barang-barangnya
kalo di bali, kain kotak2 hitam putih untuk sarung pohon, kalo Yogja pakai kain batik untuk sarung pohon

Kesan selanjutnya terhadap Yogjakarta adalah tukang taxi. Singkat cerita, jangan terlalu percaya juga dengan tukang taxi di Yogja, karena pengalaman saya membuktikan bahwa tukang taxi di sana sok tau dan tidak solutif blasss. Jadi dari pada disasarkan oleh tukang taxi, mending tanya temen dulu kalo mau kemana-mana, trs sok tau aja, gag pake tanya-tanya arah ke tukang taxi, yang ada malah argo mahal dan gag sampe tujuan yang kita mau. Lainnya adalah terhadap penjual makanan di pujasera dengan Stasiun Tugu. Buset dahh, kejadiannya berawal dari saya yang sedang berdiri menunggu Ika yang pergi menjemput pacarnya di St.Tugu. Melihat saya berdiri dan menunggu teman di pinggiran pujasera, mbak-mbak penjual makanan di pujasera berebut menawari saya makanan. Namun karena saya masih kenyang, saya menolak dan tetap berdiri di pinggir pujasera. Dan satu mbak-mbak yang terkesan baik memanggil saya dan berkata "mbak, masih nunggu temannya yaa, duduk disini aja mbak." Wahh mbak ini baik, yaudah saya berkata terima kasih dan permisi mau duduk disitu. Namun, seketika itu, Mbak Pujasera itu menawari saya makan, dan saya menolak. Dan seketika itu pula, ada 3 pembeli yang duduk disebelah saya, lalu mbak pujasera berkata "Mbak, permisi yaa. Kalau masih menunggu temannya, disitu aja (sambil menunjuk pendopo kotor dimana banyak orang tiduran dan berteduh dari gerimis)". Seketika saya menyimpulkan "tidak ada yang baik di yogja, kebaikannya hanyalah palsu yang mana hanya ingin mendapatkan untung pribadi semata". Amit-amit... baru kali ini saya diusir dengan kelembutan tanpa perasaan bersalah seperti itu. Kipak tenan wong-wong ndk Yogja iku, gathelll!

Yaaa, itulah sepenggal kisah saya selama 14 jam di Yogja. Kesan pertama yang buruk menurut saya. Yogja yang saya idam-idamkan sebagai kota sejarah akan budaya Jawa dan keratonnya, tidak ada suasana dan aura nJawani blassss. Kipak kabeh wong-wong ndek kono. Jowone palsu. Bahkan jarang ada orang yang berbahasa jawa kecuali jika mendengar obrolan antar pedagang. Yang sering terdengar adalah bahasa jakartaan "lo gue". Tidak ada lagi Yogjakarta yang saya idam-idamkan. Saya kecewa dan sedih dengan kondisi kota Yogja yang sekarang. Seperti orang Jepang yang mengalami paris syndrome ketika mengunjungi kota Paris, saya mengalami Yogja Syndrome setelah 14 jam mengunjungi Yogja.

nb: mohon maaf jika ada pihak yang dirugikan atau kurang berkenan dengan cerita saya, ini pure curhatan personal yang didasari atas pengalaman pribadi penulis. Terima kasih

Jumat, 22 Februari 2013

Secret Zoo - Jatimpark 2 Malang

May be this is so late to share my happy puppy moment with my family and my special one, Kresno. Yaa, last month ago, I went to Jatimpark 2, its means that I got the package tour: at Secret Zoo and Satwa Museum. Secret Zoo is a modern zoo at Malang, East Java. The Modern Zoo which is like no other Zoo, More Attractive, more Stuff on it, and for you who seeking about Animal Knowledge will satisfied.


This is Kresnoku and I :*


My  Sister in law and I


This is My Lovely Mom and I

This is my family and Kresno
we are in the giant bird cage


just pose like a putri duyung, haha

I am playing  music percussion
The swans and I
watch out, there is a big buffalo near you, haha
Just candid the moment
feels like a Japanese
at satwa museum, just feels like in Korea
I'm a killer pirate, hehe
lovely mama, my sister in-law, and I
we walk together :)


May be this is a part of narcissism. Haha. But I think this is a part of moments to show to the world that my family and kresno got closer :*