Tampilkan postingan dengan label dance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dance. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2011

Mendadak Bali

Festival kebudayaan di Perancis Selatan 2011 lalu, menampilkan sosok kemayu yang anyar, yakni kemayu on balinese costume, berikut tampilannya:


Senin, 18 Juli 2011

T-ta Paramadina goes to France 2011: part 2

Subhanallah..Malam ini aku belajar banyak hal:
tentang spirit secara vertikal untuk kehidupan yang horisontal
dari pelatihku: Lagi-lagi aku menemukan fakta bahwa Tuhan selalu menyayangi hamba yang selalu bersyukur dan percaya akan Jalan terbaik Tuhan yang diberikan kepada kita.
##Alhamdulillah, tadi malam lengkap sudah 27 visa anggota T-ta goes to France tanpa terkecuali

Selalu ikhlas, berpikir positif dan menjalani dengan semangat, itu sedikit dari berbagai keyword yang terlontar dalam sesi 'kongkow-kongkow' di sela-sela latihan rutin t-ta paramadina goes to france kemarin (18/07).

Keajaiban akan datang sepanjang ada mimpi, usaha dan kepercayaan bahwa Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik bagi kita. Intinya bersyukur!
Dan terima kasih Tuhan, Engkau telah menempatkan diriku dalam lingkungan yang tepat, T-ta Paramadina yang beranggotakan oleh orang-orang luar biasa, dengan karakter yang luar biasa pula. Lingkungan yang telah mempertemukanku dengan sosok pelatih yang tak jua hanya sekedar pelatih, namun lebih dari itu, beliau motivatorku untuk terus belajar dan bersemangat di dunia tari. Dengan segala kekuranganku, aku kuat dan bersemangat berkat mereka. aku banyak belajar dari kalian.
mengutip dari kata-kata Bang er (pelatihku) semalam: t-ta paramadina telah masuk dalam catatan sejarah hidupku, dan selalu akan hidup!! :*

Selasa, 21 Juni 2011

T-ta Paramadina goes to France 2011: part 1

Menari Bukan soal teknik, kelincahan, dan egoisme

Ya! akir-akir ini aku telah disibukan dengan kegiatanku di T-ta (UKM tari tradisional di univ.paramadina, Jakarta). Setelah tahun lalu t-ta disibukan dengan padatnya aktivitas untuk persiapan misi ke Polandia, tahun ini T-ta akan melaksanakan misi budaya ke Perancis.
Dimulai dari proses audisi yang cukup rumit dengan esai dan test kompetensinya (ini video audisinya: video 1 dan video 2), proses awal menuju perancis telah dirampungkan dengan baik.
latihan demi latihan dimulai sejak Maret 2011 untuk persiapan keberangkatan festival tgl 26 Juli hingga 17 Agustus 2011, bukan waktu yang lama namun juga tak begitu singkat pada ukurannya.

Waktu terus berjalan, dan bohong jika suatu tim maupun organisasi tak memiliki hambatan dalam perjalanannya. Semangat, kesibukan, fokus, prioritas, kesehatan, ego, kedisiplinan, komitmen, berbagai macam konflik internal tim tak terelakan. Kesatuan sinergi yang dibutuhkan untuk keberangkatan suatu tim dalam misi budaya belum terbentuk dalam t-ta goes to france tahun ini. Aku pun sangat merasakannya. Semangat untuk latihan hanya sekedar memenuhi tanggung jawab dan komitmen, bukan karena aku berangkat untuk belajar tari dan akan melaksakan misi ke luar negri. Hemhh... perasaan yang seperti ini yang memberikan tekanan mendalam dalam proses misi tahun ini, terlebih lagi egoku sendiri yang ingin menampilkan sosok diriku sebagai seorang penari yang lebih profesional. Disini untuk pertama kalinya aku merasa tertekan ketika menari.

Berawal ketika aku mendapatkan tanggung jawab untuk menarikan tari bali dan piring dalam festival perancis. Hal yang sangat baru dan bertentangan dengan karakterku yang centil dan kemayu layaknya pada tarian betawi dan melayu. Akan tetapi aku tetap berpikir positif untuk menerima hal-hal baru karena dalam masa dan waktuku, hal itu memang dirasa sangat dibutuhkan untuk mencapai kapasitas seorang penari yang lebih baik lagi.

1 bulan 2 bulan aku berlatih, aku mengalamai sesuatu yang menekan alam bawah sadarku. terkadang aku sangat sensitif dan moody saat menari. aku merasa kehilangan kendali dan rasaku dalam menari. itu sesuatu terburuk yang pernah kualami selama 2 tahun belajar menari, kehilangan rasa dan passion. hingga suatu ketika terbangunlah sebuah forum 'curcol' t-ta pada 17 Jun dari 19.00- 18 Jun pukul 01.00. Saat itulah semua permasalahan non teknis terpecahkan, termasuk 1 anggota t-ta goes to france resmi dikeluarkan dari misi. dilain sisi, aku sadar akan kekosonganku dalam menari selama proses ini, ketika dila berbicara,"ntah karena aku pribadi sudah pernah tau bagaimana tarian yang bagus dan tekniknya seperti apa, aku jagu terlalu fokus ke arah sana tanpa menghiraukan kesatuan dalam menari dan terutama feel tarian itu sendiri."

Maaf aku telah egois. iya! benar kata dila, aku yang mungkin sekarang ini lebih banyak tau bagaimana tarian yang bagus dan rasa ambisiusku yang terlalu menggebu-gebu untuk mencapai arah profesional, namun hal itu malah menghancurkan diriku sendiri. aku terlalu fokus pada teknik sehingga lupa akan rasa ketika menari. aku terlalu egois dalam menari karena aku ingin diriku terlihat baik tanpa memerhatikan orang lain. aku tidak membangun sinergi terhadap tim tari itu sehingga kita berdiri sendiri-sendiri. itu yang membuat selama ini aku selalu berat melangkahkan kakiku dan menata semangatku ketika aku hendak pergi ke latihan rutin t-ta goes to france.

hummhh...aku banyak belajar dari sini kawan,

tp be continue...

Sabtu, 15 Januari 2011

it`s all about me, dancing, and Indonesia

Esai tiket masuk Audisi festival di Perancis,
berikut sekelumit ceritanya

Saya, menari dan Indonesia



Mungkin saya tidak bisa melakukan apa yang kebanyakan orang lain lakukan, namun satu yang bisa saya lakukan hingga saat ini adalah saya dapat membuat orang lain tersenyum dengan tarian saya. –oka, maestro tari bali-

Tidak jauh dari situ, satu tujuan hidup saya adalah membuat orang lain tersenyum, dan menari adalah salah satu langkah saya untuk mewujudkannya. Ini semua tentang saya, tarian, dan Indonesia. Tiga hal yang merupakan satu kesatuan yang takkan pernah bisa dipisahkan. Jika dibuat korelasi, pernyataan saya diatas dapat dituliskan demikian: Saya mencintai tarian. Tarian yang saya cintai merupakan tarian-tarian rakyat (tradisional) Indonesia. Dengan begitu saya merasa benar-benar memiliki kecintaan terhadap Indonesia, truly Indonesian. Dewasa ini saya menyadari bahwa tari adalah saya. Dengan menari, saya ‘hidup’. Saya dapat berekspresi, saya dapat mengontrol emosi, saya dapat mengisi jiwa saya.

Jika ada pertanyaan ‘mengapa saya mengikuti seleksi ini (Misi ke Perancis)?’, tentu saya akan menjawab singkat ‘karena saya ingin berpartisipasi dalam misi kebudayaan di Perancis mendatang’. Namun, latar belakang saya tak sesederhana itu rupanya. Beberapa hal yang mendorong saya mengikuti audisi ini, pertama adalah nasionalisme sebagai bangsa Indonesia. Terdengar naïf memang. Namun itulah faktanya. Mungkin dasar pemikiran saya adalah pengenalan, pembuktian, pengakuan bahwa saya adalah orang Indonesia dan inilah Indonesia, Negara yang kaya akan budaya. Berawal dari pengalaman misi kebudayaan di Polandia tahun sebelumnya, padatnya kegiatan disana menyadarkan saya bahwa saya adalah Indonesia, dan saya telah benar-benar menjadi Indonesia (Truly Indonesian) dengan mengenal dan memperkenalkan budaya tanah air. Apa artinya menjadi Indonesia jika tak mengenal dan memperkenalkan budayanya sendiri. (;p)

Tidak lepas dari ‘saya adalah Indonesia’, hal lain yang membuat saya sangat bersemangat mengikuti audisi ini adalah misi hidup saya yang akan selalu membuka lembaran-lembaran baru, ke seluruh penjuru dunia. Saya masih ingat perkataan Pak Wija, Deputi Rektor sekaligus dosen di Universitas Paramadina yang memotivasi saya untuk membuka pikiran saya dalam memahami dunia. Dan kesempatan itu terbuka lebar disini.

Selain itu adalah karena misi kebudayaan ini akan diadakan di Perancis. Sepemahaman saya mengenai Perancis, merupakan Negara yang memiliki standar tinggi untuk memasukkan sebuah nama ke dalam daftar peserta festival, khususnya dalam hal ini adalah festival kesenian rakyat. Sejarahnya, hanya tim-tim kebudayaan yang telah memiliki jam terbang yang tidak sedikitlah yang dapat mengikuti festival kebudayaan disana. Dan jika T-ta Paramadina menjadi salah satu tim yang namanya telah terdaftar disana, hal itu akan memunculkan sejarah baru bagi Paramadina, T-ta dan individualnya sendiri tentunya. Dan saya tidak akan melewatkan kesempatan itu, kesempatan menjadi bagian dari sejarah itu.
Sekelumit latar belakang saya diatas setidaknya sedikit mengungkapkan alasan-alasan mengapa saya mengikuti seleksi ini. Harapan saya untuk lolos dalam audisi ini sangatlah besar. Namun, usaha optimalisasi saya dalam setiap tarian yang saya bawakan itu jauh lebih besar. Yang terpenting adalah menari dan terus menari. Do the best and always differently.


yaaahh mesti tadi ada pengeditan saat menulis ulang di kertas HVSnya, namun overall ya kaya ginilah.. ehehehe

I dont care about anything, I have shown them the best of mine :)

today was so exciting. All of T-ta Paramadina members team attended to the Audition for France Festival, July 28th - August 18th 2011. (wow!! O_0) When i received the message from T-ta that will held the audition for France festival, i was soo excited.. I want to shout loudly, so loudly. I want to follow this culture mission.

today, January 15th 2011 was the historic day for us. We fought and pray together for the best result. The audition requirement was such as CV, essay about what the motivation join in the audition, and performing art, playing music or dancing. oiyaa.. before performing, we should be completing the interview session yet. and waiting the game was so boring time. Almost all of the participants was so nervous.
show the video which recording the moment while we were so nervous..

Interview session has been through, and time to show off. while I was on perform session, the surprising thing was asked by them, panel, was they asked to me to make a dance which was containing from four dances, zapin, betawi, kalimantan, rantak. how? up to me. OK! let show it!
and because i did not get the permit from panel to record my performance, i record Dilla`s experience while she went out from the test room. this is the video..(just click!) hehe


and all has covered, I have shown the best of mine, and just wishing to God in order to gave me the best. amin. *kacau ah b.ingnya..hehe

Jumat, 14 Januari 2011

What`s on my mind now?

I want to be a Super Folk Dancer

nothing else, although I am a girl who love everything about fashion so much, I love Folk Dance more...

want to keep you into me, put you on my soul, give you all of mine, kiss you every time, hug you deeply, hold you and never leave you..
I`m so falling in love with you, folk dance
- mumbling*



singing:

Love is you by Ten2Five

ohhh
this is how i feel
whenever i'm with you
everything is all about you
too good to be true

somehow i just can't believe
you can lay your eyes on me
if this is a fairy tale
i wish you will end happily
even know we are a part
i can feel you here next to me
here and now i will love
stay with me

let me love you with all my heart
you are the one for me
you are the light of my soul
let me hold you with my arms
wanna feel love again
wanna feel love again
wanna feel love again

and i know love is you

love is you

Senin, 03 Januari 2011

Serpihan hatiku masih tertinggal di Negeri Putih Merah

Aku temukan tulisan yang sempat ingin aku posting beberapa bulan yang lalu. apa lagi jika tidak mengenai Polandia.

Masaku setelah festival itu sungguh melekat hingga aku memosting feature ini.


berikut tulisanku yang sempat terlewatkan:



Telah 1 bulan aku berada di Indonesia. Tapi POLANDIA masi begitu melekat diingatanku. Negara pertama yang membuat aku merasa benar2 bangga menjadi anak Indonesia.

8-23 Agustus 2010. Momen special yang aku lalui di Poznan dan Warsawa, Polandia. Aku dan tim Tariku, T-ta Paramadina mengikuti festival tari internasional untuk pertama kalinya, yang pertama World Folk Review Integration yang diadakan di Poznan dan kedua adalah IIF Folk Festival “Warsfolk” yang diadakan di ibu kota Polandia, Warsawa.

World Folk Review Integration diikuti oleh 6 negara, Indonesia, Ukraina, Kenya, Bulgaria, Belarus dan Polandia. Konser dan parade yang kita lakukan hampir setiap hari merupakan momen-momen yang kami rindukan hingga saat ini. Negara yang sederhana dengan penduduk yang ramah mengesankan bahwa Polandia adalah Negara yang hangat tak seperti Negara di eropa lainnya (persepsiku). Poznan, Leszno, Wronki, dan Swarzedz, kota-kota bersejarah bagi kami, Tim tari Paramadina yang notabene baru didirikan 2 tahun lalu. Tidak lepas dari nama festival itu sendiri, kami benar-benar terintegrasi menjadi satu disana. Final concert yang diselenggarakan diacara puncak besarta penutupan festival di Poznan menggabungkan seluruh tarian dari ke 6 negara. Aku adalah orang yang menghargai proses, aku benar-benar memanfaatkan momen itu untuk mengenal Negara lain. Indah rasanya berada dalam lingkungan mereka. Chopin – Polonaise, menjadi lagu sejarahku dalam final concert tersebut.

Satu yang tak bisa lepas hingga sekarang. Aku merindukan seseorang. Ira. Dia adalah Ukrainian yang cantik, ramah, dan baik. Tak sadar, setelah kita berada di Negara masing-masing, aku menemukan bahwa tanggal lahir kita sama, 7 Juni 1991. Itu merupakan hal luar biasa karena akhirnya aku telah dipertemukan oleh sosok manusia yang lahir pada waktu yang sama denganku. Dan dia spontan mendeklarasikan bahwa aku bukan hanya temannya, tapi kembarannya. Aku sangat terharu mendengar kata-kata yang dia ucapkan. Setelah beberapa waktu kita mengalami hal luar bisa dan sedikit gila di Poznan, kita masih keep in tougn hingga sekarang.

Aku ingat ketika Indonesian dan Ukrainian saling bertukar kostum. Aku, dila dan anggi memakai kostum Ukrainian dan ira, dasha memakai kostum indoensian. That was so funny. Aku merindukannya sekarang, sangat merindukannya, huhuhuhu... :’(

Festival kedua diadakan di warsawa. Hari-hari di warsaw berlalu begitu cepat menurutku. kita kurang dapat mengenal baik orang-orang dari Negara lain, banyak alasan dibalik itu.

Namun, aku memiliki catatan singkat mengenai schedule kami saat festival di Warsaw, berikut uraiannya:

19 Agustus 2010

Pukul 15.00, parade di rynek Nowego Miasta, Rynek Starego Miasta, hingga Plac Zamkowy bersama tim tari dari Argentina, Ceko, Yunani, Belgia, Rusia, dan Albania. Parade pertama ini diiringi dengan gerimis kecil yang menambah kesan eksotis kota Warsawa. Dalam parade ini, T-ta Paramadina menampilkan tarian Galombang, Rantak dan Zapin Dara.

Pukul 18.00, menuju Amfiteatr w parku Sowinskiego, Jalan Elekcyjna 17. Dalam konser pertama, tim tari tradisional paramadina menampilkan tarian Galombang, rantak dan Zapin. Konser perdana di Warsawa ini diikuti oleh peserta dari Polandia, Argentina, Ceko, Yunani, Belgia, Rusia, dan Albania.

20 Agustus 2010

Pukul 13.00, tim tari dari Indonesia, Belgia dan Albania mengikuti Supporting events di Centrum Zdrowia Dziecka, sebuah rumah sakit anak yang berada di Warsawa. Kami menampilkan tari Saman dan Kelompok perkusi dengan lagu Yamko rambe Yamko dengan tujuan menghibur dan meningkatkan semangat para pasien yang seluruhnya anak-anak. Kejadian tak terduga pun terjadi pada salah satu anggota tim tari Indonesia, yaitu Sintia. Selepas dari penampilan di konser sosial tersebut, dia tiba-tiba jatuh pingsan dan langsung masuk ke UGD. Namun, berkat Tuhan YME, dalam waktu kurang dari 2x24jam, Sintia dapat dibawa kembali menuju asrama tempat menginap kami.

Pukul 19.00, Tim tari dari Indonesia, Albania dan Argentina serta Turki dan Slovakia sebagai bintang tamunya konser kembali di Amfiteatr w parku Sowinskiego, Jalan Elekcyjna 17. Tampilan tari saman dari Indonesia mendapat sambutan yang sangat meriah dari penonton warsawa. Dan kami mendapatkan tamu istimewa dari Kedubes RI di Warsawa.

21 Agustus 2010

Pukul 15.00, Indonesia, Albania, Ceko, Belgia, Polandia, Yunani, Rusia, dan Argentina berparade di Skwer Hoovera, Jalan Nowy Swiat. Parade saat itu sungguh mengesankan, karena itu merupakan parade yang terakhir kami di festival IFF Warsfolk. Meski terik matahari sangat menyengat, kami tetap bersemangat untuk menampilkan tari Zapin Dara, Lenso dan Gantar.

Pukul 19.00, Indonesia dan Albania konser di Siedlce, Centrum. Kami mendobrak panggung siedlce dengan tari Galombang, Rantak, Zapin, dan Saman. Seperti konser-konser sebelumnya, penampilan Indonesia mendapat respon positif dari masyarakat.

22 agustus 2010

Pukul 18.00, final concert di Amfiteatr w parku Sowinskiego, Jalan Elekcyjna 17 diikuti oleh ke-8 negara, Albania, Indonesia, Argentina, Ceko, Belgia, Rusia, Yunani, dan Polandia. Semangat pun memuncak karena kita menyadari bahwa konser itu adalah konser terakhir dalam deretan festival yang kami ikuti pada periode 2009. Konser itu berjalan sangat spektakuler. Tari Saman pun telah menjadi bintang saat itu. Dan puji syukur, Tim T-Ta Paramadina mendapat Penghargaan Spesial dari Parlemen Uni-Eropa. Itu merupakan sebuah anugrah tak terhingga yang kami dapatkan karena penghargaan ini merupakan pernghargaan pertama dari even pertama ke luar negeri. Pengalaman yang sulit untuk digambarkan dan akan selalu terkenang karena segala yang kami alami selama di Polandia adalah yang pertama.

That`s all. Masih terlalu singkat kurasa. Namun lebih baik tersharingkan sedikit daripada tidak sama sekali. Meskipun out of date, namun kuharap dapat memotivasi teman-teman.

Berikut video rangkuman kegiatan kami disana:

Video 1 _ keberangkatan ke Polandia

Video 2 _ Festival di Poznan ‘World Folk Review’

Video 3 _ Festival di Warsaw ‘IIF Folk Festival “Warsfolk”’

Senin, 06 Desember 2010

Finally, I am on abroad!

Finally, I am on abroad

By: Ema Hari Ervita Sari


“if you have a reach, you should have a promise to abroad since now. You must go abroad in bachelor, not in magister.”



There is strategic words from Mr. Wija that I always remember when he gave a speech in Evaluation Meeting PF 09/10 last time. The words could motivate me to go on for better dream, better achievement as long as I being a student in bachelor. But, sometimes I felt so pessimist when I was aware that my soft skill on English is just like an elementary degree, not good enough. I thought, I could learn more about English if I really go to abroad. Why? If my reason is my English which is not good enough because I am too shy to practice here, I would not be shy to practice there because the society would understand that I am foreign who learn about it. The question is “Is there an exchange program or summer camp that can be followed without English test or TOEFL test?

When I was still in my dream of that , suddenly I got an SMS from my captain of traditional dance club that filled in about: ‘ema, would you like to follow dance festival at Poland?’ I am so surprised and did not believe that. But Alhamdulillah, God might give me a chance through this way. And finally, I could reach my dream to be aboard this year. Yeah!

I was so happy. The requirement for this event was so simple, parent permit and an agreement to collect some money, 4 millions rupiahs if cash from sponsorship could not complete the target. I was optimistic about it. I called my family at Malang, I told all story and the requirement. And the result, I did not get a permit. They did not agree, there were many priority needs that was more important than to complete my dream. Their reason could not be agree by me. They did not consider my dream and the positive result of this event. This festival opened my way to learn something new I’ve never get before. So I did not want to debate anymore. I made a decision soon: ‘I would go to abroad, only by their permit, anything that I needed on next time would be finished by my self’. But I thought that on my 19th, I might not be in safe area, comfort area or some words like that. I had to dare to take a challenge, and this was my decision fortunately my parents allowed me.

I spent the every single time happily. Everyday I get exercise for my dance from 7 p.m. o`clock until midnight. While waiting conformation from sponsorship, on weekend we were fundraising with effort everything we can do. There were selling cakes and drinks at Monas, Senayan, Ragunan, etc. We opened a stand at lobby Paramadina to sell “kriuk” snack for raising the budget about 400 millions. Physical and mental struggles we had done to achieve my the common goals

Day after day time passed away, the times coming closer. Next one half a month we leave at Poland, how do the proposal which we have applied? There were not confirmation. My heart beat faster everyday. I was worried when we got an SMS from Mr. Wija that we had to more seriously and keep spirit for fundraising because what he have done couldn`t got the maximum progress.

Practice that day was very empty heart. The dances were not life in our heart. When Mr. Mija knew it, he gathered us soon and made a speech:

“eeemm friends, this afternoon I have been meeting and doing presentation at some of sponsorship. I hope you are more spirit to exercise and effort harder in fundraising. Because actually my heart was biter than yours for this activity”, said him calmly. (all of the T-ta`s members face were vague, not have the aura of life because Mr. Wija whom we hope to help us on fundraising made a negative statement. A second minutes….

He said,” we have to thanks to God, yesterday OCBC NISP had given us some money. And today, PT Rajawali Foundation have agreed to give us some, Grand Indonesia will give some, and you have to more spirit because Djarum Bakti Sosial will give some dollars for us.”

We were so surprised happily when heard it. Thanks God, crying, hugging, warmly atmosphere that was so beautiful view that night. We thanked to Mr. Wija and Mrs. Nara who have helped us at behind for raising our success.

Noisy cheers gratitude reverberation at that place(the “taman peradaban”). Our spirit come up, the soul of our dance was life. Based on that news, we would exactly go to Poland. We needed a little bit again to reach our goal.

Next month. Our physic condition were down . Each other gave spirit was the key for that situation. We felt that we were unity needed understanding and keep the goal. In that condition, our solidarity beat the egoistic. More than it, heart press that was probably felt by some of members because a quarter of budget is taken responsible on each of T-ta`s members. I was also very depression while I knew that my life here was no family and I must got a solution alone.

But, long time depression was not effect me. I was optimistic, and one by one of the way were opened. I was listing all of likelihood that I could do it for getting some money. This was interesting. While I have class with a lot of exercise, dance practice that was so empty the energy, I still thought about paying some money at stage 1, July 15th for completing the ticket charge. One of effective step that I thought was using my network to find private donator. I was listing the potential ones, and starting to call the alumnus of Paramadina, NGO, my senior high school friends, my senior high school headmaster, and the last was my senior high school community at Jakarta, AMISA.

I called them one by one. One day, when I called Mrs. Yulia, I got a positive respond. Alhamdulillah, she provide to be my donor. I was thankful for her. Day after day, by one time leisurely to call my senior high school community member at Jakarta, Mr. Sony. Sending an SMS, and I don`t believe that next minute I got a call from him. He gave a positive respond and I met him soon at his office.

I went to his office at Mega Kuningan next day. We talked many things like a father and his daughter. Warm atmosphere was built and our first meeting was successfully. I got some money from some meeting with him and his friend, Mr. Wisnoe who was also my senior high school community member. I was so happy ever to recognize them. I wish our relationship was still exist till the last life.

Some kind persons who have helped me were so relieve my responsibility, even though I also had to take my saving and borrowed some at my college cooperation. But, that did not make me worry because all of my decision has been predicted by me. While I come back from Poland, I exactly have some money to lend them because a Poland, we hold an exhibition about many kind of Indonesian handicraft.

The last but not least, I was so happy because I have been deciding something correctly for my life. Although some conflicts one by one were coming almost at the same time, I was regularly thanks to God because this was my process for 20th at next year. The results that I found liked a pearl in Pacific. And I was still hope and grapple for finding another pearl in another sea.



Thanks to:

GLOBE Media Group, OCBC NISP, Djarum Bakti Pendidikan

GRANlD INDONESIA, Rajawali Foundation

Bringin Life, Scorpion Holidays, Sister Magz, Republika

dan semua rekan yang telah mendukung even ini

Rabu, 01 Desember 2010

Sepenggal kisah bersama Polandia dan T-ta Paramadina

Telah lama kiannya saya tidak pernah menginjakkan jemari saya untuk menulis di blog ini.
Berbagai even yang memaksa saya untuk jarang menyentuh keyboard laptop menyebabakan saya vakum sebentar dalam komunitas ini.
namun, dekat dekat ini, saya merindukan kembali apa yang telah saya tinggalkan.
dan sekarang saya ingin sharing pembuka kepada teman2 blogger mengenai salah satu even yang membuat saya kurang sempat posting di blogspot.



kostum: tari Saman & seudati
konten foto: T-ta Paramadina, Pak Very, Nyak, Ka Tania (IOV), Ka Shafa (pelatih tari), Bang Jupri (pelatih musik) dan Ina (penari cilik Bulgarian)

foto oleh: Mas arief



KLIK disini
-untuk melihat rekaman video Festival Tari 'Integration review Folk Festival at Poznan, Poland, Part 1

tetap semangat dan
Jadilah duta bangsaaa...
bersambung...n_n
(all about folk dance and T-ta paramadina click here)

Rabu, 16 Juni 2010

F U L L D A Y

hai dear!
i am so busy nowdays so i`m sorry, i couldn`t post everything about my experience last day,
but, someday my dance group and I were invited by Sulis, a religion singer to be a background dancer in her concert at Istora senayan, June 15th 2010
my feeling was so happy =D)
me and Sulis

i have a dance group in Paramadina University

=============================================================

At night at the same day, I attended to IDF IKJ (Indionesia Dance Festival at IKJ, Jakarta)
with Dila and miss Shafa
great event, great choreographer, great dancer,
this is some photos, but i`m sorry, my HP camera is bad quality.


choreographer: contact gonzo (Japan), Asri Mery Widowati (IKJ Dance Company/Indonesia), Siti Ajeng Soelaiman, Andara Firman Moeis, Fitry Setyaningsih (Indonesia).



FullDay, GreatDay, GreatExperience, GreatDiscussion, GreatEverything...